Jumat, 03 Mei 2013

Karate Kompetisi dan Karate Fundamental

                   



                                                                                         


KARATE KOMPETISI (コンペティショ)
DAN KARATE FUNDAMENTAL (ファンダメンタ)
OLEH: MADJU DHARYANTO HUTAPEA, SH, MSi
DEWAN GURU INKAI DAN WAKIL KETUA UMUM PP INKAI
DAN 8



Paradoks karate kompetisi dan karate fundamental, seakan dimaknai kepentingan berbeda padahal bagi setiap kontestan karateka, adalah tidak mungkin mampu mengikuti pertandingan atau kompetisi tanpa terlebih dahulu berlatih karate secara mendasar atau fundamental.
“menentukan kalah dan menang dalam karate, bukan tujuan, melainkan untuk membentuk budi luhur manusia yang berkarakter” . Ada dua puluh filosofi karate shotokan yang dikenal dari paham filosofi Funakoshi (NIJU-KUN 二重橋) yang dituangkan oleh Prof. Nakayama di tempat latihan yang disebut dengan sumpah karate (DOJO-KUN 道場-) yaitu: membentuk karakter yang baik (良い性), setia (忠実), unggul(優れ), menghormati orang lain (他人に対する敬) serta mampu menahan diri dari perilaku kekerasan (暴力行為を控えることができ). Ini identik juga dengan motto inkai, yaitu memiliki integritas pribadi yang kuat, tangguh dan rendah hati.
Karate berevolusi sejak diperkenalkan oleh tokoh pendiri Karate yang disebut dengan “TODE SAKUGAWA” TAKAHARA PEICHIN, KANGA SAKUGAWA, MATSUMURA, YASUTSUNE ITOSU, YASUTSUNE AZATO hingga pewaris Shotokan GICHIN FUNAKOSHI. Peruntukan bela diri karate sejak abad ke 16 hingga abad 19 secara spesifik diperuntukan untuk membela diri semata dari serangan musuh baik itu manusia maupun hewan buas, namun periodesiasi abad ke abad kepada satu hal yang tidak berubah yaitu apa yang dipahami dalam DOJO-KUN yang lazim kita sebut dengan sumpah karate di dalam aliran shotokan. Pelatihan karate secara utuh harus memahami dan menguasai apa yang disebut dengan KIHON (基本), KATA ()  dan KUMITE () bahkan secara khusus pula bagi seorang karateka untuk memperoleh kenaikan tingkatan sabuk yang disebut dengan keahlian harus juga memahami dan menguasai ketiga unsur diatas sesuai dengan levelisasinya. KATA dapat diartikan sebagai bentuk latihan jurus atau kembang di dalam gerakan karate, KIHON adalah sebagai gerakan dasar demikian juga KUMITE yang lazim disebut dengan pertemuan tangan dalam aplikasi pertarungan atau pertempuran.

PARADIGMA KARATE DAHULU, KINI DAN MENDATANG
Kebajikan karate adalah sikap kehati – hatian dan rendah hati, ini adalah “isme karate” yang berkaitan dengan dua puluh filosofi karate Gichin Funakoshi yang masih aktual dalam kekinian dan mendatang, lantas di dalam ilmu perkaratean ada yang berevolusi terutama tentang semangat pengembangan yang diimplementasikan modernisasi karate yaitu, karate for compete yang mayoritas diikuti dan dipahami di belahan dunia ini bahkan dekade sepuluh tahunan ini selalu berkembang dalam peraturan pertandingan. Mencermati stylist atau aliran karate global sebagaimana diketahui , shotokan, shitoryu, gojoryu, wadoryu memiliki karakteristik (heavy models) dari masing – masing aliran tersebut namun satu dalam rule of competition WKF (WORLD KARATE OF FEDERATION) belum lagi sistem pertandingan yang dianut oleh ITKF (INTERNATIONAL TRADITIONAL KARATEDO OF FEDERATION) yang sistem kriteria pengambilan poin berbeda.
Secara fundamental, karate tetap dipahami sebagai menggunakan teknik dengan tangan kosong sejak dahulu hingga kini Cuma dibedakan dalam ruang tafsir teknik karate oleh masing masing pihak, padahal di dalam ilmu karate ada terminologi: “IKKEN HISATSU ()” yang diartikan sebagai satu tehnik karate yang menentukan (to kill with one blows)  yang didalam aplikasi perkompetisi atau pertandingan tentu berbeda maknanya, bukan pula untuk membunuh atau melumpuhkan lawan. Ketika periodesasi Okinawa-te para kesatria karateka belajar ilmu karate sangat keras meskipun tidak ada lawan yang dihadapi, hanya mengantisipasi kerasnya kehidupan bersama alam waktu itu, namun karate kekinian berlatih keras menghadapi musuh di arena pertandingan dengan persiapan manajemen olahraga dalam artian sebelum puncak pertandingan atau kompetisi ada persiapan umum, khusus maupun pra kompetisi untuk mengukur hasil dari proses pelatihan tersebut. Namun ada juga belajar karate untuk mau mendapatkan kesehatan saja.
 Paradigma karate kini dan mendatang banyak berevolusi seiring dengan perkembangan zaman dan kebutuhan, mayoritas masyarakat atau komunitas karate lebih cenderung mengejar tingkatan sabuk dan pertandingan, karena memang ilmu karate ini dipandang cocok untuk dan sesuai dalam pembinaan karakter manusia (National Character and Building) terutama di kalangan generasi muda. Karate memang tidak sepopuler cabang olahraga sepak bola namun hampir seluruh negara di belahan dunia ini ada banyak perkumpulan karate, aliran karate bahkan federasi karate negaranya. Di badan federasi dunia WKF saat ini keanggotaan di masing – masing negara marak dikampanyekan  apa yang disebut “THE K IS ON THE WAY 2020” sebagai pecanangan cabang olahraga karate bisa dimasukan dalam agenda pertandingan olimpiade 2020 mendatang, bahwa cabang olahraga karate ini bisa saja dipertandingkan di arena olimpiade tersebut sebab disamping sudah memiliki keanggotaan seluruh benua, juga memiliki unsur perlindungan keselamatan jiwa para kontestan sehingga pada kesimpulan: RESPECT (), SPORTING (スポー), INTEGRITY (整合性) AND COMMERCIAL (コマーシャ).  Namun di cabang olahraga karate ini masih memiliki dua wadah karate yang notabene berbeda pula sistem pertandingannya, lantas bagaimana bisa diterima oleh badan olahraga dunia tersebut? Adalah bila kedua wadah karate tersebut, mau melaksanakan dalam satu “rule of competition” sebab bila tidak maka, pertandingan karate di olimpiade 2020, hanya mimpi belaka. Maka dari itu skala prioritas saat ini adalah bukan mengkampanyekan slogan ”THE K IS ON THE WAY 2020” karena memang karate sudah hidup di hati masyarakat di belahan dunia ini, jadi yang terpenting adalah Respect dan rendah hati dalam menyatukan dua wadah dunia karate tersebut yang diimplementasikan “One Rule of Competition.
EPILOG (エピローグ)
Karate fundamental adalah tidak hanya memberikan atau mempelajari teknik – teknik karate semata melainkan memberikan pilar filosofi kehidupan yang kekal, karate kekinian yang digandrungi dengan karate kompetisi tidaklah merubah prinsip – prinsip fundamental,  dengan demikian apa yang dituliskan oleh Bapak Karate Shotokan Gichin Funakoshi yang diteruskan oleh sang murid Prof. Nakayama tidak merubah makna karate itu sendiri. Teknik karate bisa disesuaikan dan peraturan pertandingan bisa berubah setiap saat sesuai dengan kebutuhan perkembangan yang ada, namun karate sebagai asas “jalan kehidupan (Karate Is My Way Of Life, 空手は人生の私の方法で  )” tetap aktual adanya, tidak ada yang permanen kecuali PERUBAHAN (変更内) itu sendiri, ingat sabda Gichin Funakoshi: Karate dipelajari bukan hanya untuk beladiri semata, karate itu juga adalah seni (あな) yang didalamnya dipenuhi makna kehidupan bermasyarakat yang baik, jujur dan adil, karate sesungguhnya tidak ada yang berubah bila dilihat dari aspek filosofinya (哲学) bagi karateka sejati, meskipun pernah atau sering meraih prestasi di kejuaraan atau kompetisi karate, adalah lebih penting menghayati seni itu sendiri yang diimplementasikan dengan dua puluh filosofi sang legendaris karate shotokan, Dewan Guru INKAI telah meneruskan dan mengajarkan amanahmu ()  …. Osh Sihan Gichin Funakoshi………..!!!!!!!!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar